Pemimpin adalah orang yang paling bersyukur, paling baik menjalankan kewajiban perintah-perintahnya Allah, paling baik mengurusi dan menjaga rakyat-rakyatnya.
Yang dijalani pertama oleh seorang pemimpin adalah ia harus menjalani menjadi orang yang paling bersyukur, bersyukur tidak hanya arti dalam ucapan "alhamdulillah" Jika hanya seuntai mengucapkan kalimat tersebut banyak sekali diantaranya yang tidak dengan sandar atau esensinya.
Bersyukur yang pertama adalah tidak mudah mengeluh, mengeluh apapun yang terjadi. Orang yang bersyukur itu adalah orang yang paling ridho terhadap semua keputusan Allah, maka dia tidak akan mengeluh.
Hari ini tidak sedikit orang yang lupa dengan syukur, banyak orang asik sendiri dengan kesulitan dan keluhannya sendiri-sendiri, sehingga lupa banyak sekali anugrah-anugrah Allah yang lain yang tidak pernah kita lihat atau rasakan sedikitpun. Sehingga ketika kita hanya fokus pada kesulitan dan keluhan pada akhirnya stuck akan tersudutkan yang berujung tidak berkembang.
Padahal Qur'an jelas menyampaikan : "ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku" (2:152)
Jika pemimpinnya tidak bisa bersyukur, hanya mengeluh, rasanya gelap terus, sementara pemimpin adalah cerminan yang dia pimpin artinya semua kepemimpinannya semua wilayahnya yang dia pimpin itu nuansa nya gelap.
Yang kedua menurut Imam Al-Mawardi yaitu yang paling baik menjaga dan mengurusi rakyat-rakyatnya, pandangan tersebut semacam dorongan untuk memprovokasi para pemimpin yang ada. Berbicara pemimpin bukan berarti ditunjukan kepada mereka yang memiliki jabatan. Kita memimpin dilevel kita masing-masing.
Jika tadi berbicara pada konteks yang harus dijalani oleh seorang pemimpin, untuk yang ini berbicara konteks yang harus dijauhi oleh seorang pemimpin.
Seorang pemimpin harus menjauhi dari kerendahan, membersihkan diri dari kekotoran, meninggalkan apa yang menjatuhkan harga diri, dan merusak kehormatan.
Kalimatnya begitu puitis tapi untuk menjalankan nya perlu wawasan-wawasan ilmu yang luas. Seorang pemimpin itu tidak boleh merasa sudah pinter, sudah mengerti. Dia harus siap selalu belajar agar kualitas kepemimpinan nya pun meningkat.
Yang dijauhi seorang pemimpin adalah menjauhi kerendahan, menjauhi dari hal-hal yang bisa membuat jatuh martabat kemanusiaannya, jangan melakukan perbuatan yang bisa membuat seorang pemimpin itu jatuh kemanusiaannya menjadi "asfalasafillin", bahkan bisa jatuh lebih rendah dari binatang ternak atau kita kenal dengan " Ulaika kal An'am".
Menjauhi kekotoran dari jiwa yang masih berambisi hasrat duniawi, jiwa yang masih hasrat hawa nafsu.
Meninggalkan apa yang menjatuhkan harga diri dan merusak kehormatan. Ini jatuhnya menjadi sifat sutasi lokal atau keseharian kita. Artinya prilaku kita harus beradab, karena adab itu buahnya akhlak adab itu menyesuaikan dengan lingkungan di sekeliling. Korelasinya ketika seorang pemimpin menjatuhkan harga dirinya, maka rakyat yang dipimpin akan memandang buruk, yang pada akhirnya rakyat ini tidak ingin diperintah atau ditata diatur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar